Menyambut 2026: Pemulihan Global dan Transformasi Pendidikan sebagai Fondasi Akselerasi Pertumbuhan Nasional
Tahun 2026 hadir sebagai babak penting dalam perjalanan global dan nasional. Dunia tengah bergerak keluar dari bayang-bayang krisis multidimensi yang melanda dalam beberapa tahun terakhir—mulai dari pandemi, konflik geopolitik, ketegangan ekonomi global, hingga disrupsi teknologi yang mengubah wajah peradaban manusia. Pemulihan global yang sedang berlangsung tidak sepenuhnya berjalan mulus. Ia diwarnai ketimpangan, ketidakpastian, dan pergeseran kekuatan dunia. Dalam konteks ini, setiap negara dituntut tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga memiliki visi jangka panjang untuk melompat lebih jauh.
Bagi Indonesia, tahun 2026 bukan sekadar angka dalam kalender pembangunan. Ia merupakan momentum strategis untuk mengonsolidasikan pemulihan dan sekaligus melakukan akselerasi pertumbuhan yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Namun, akselerasi tersebut tidak akan tercapai hanya melalui kebijakan ekonomi jangka pendek atau eksploitasi sumber daya alam semata. Kunci utamanya terletak pada kualitas sumber daya manusia, dan di sinilah transformasi pendidikan menemukan relevansinya yang paling mendasar.
Dinamika Global dan Tantangan Pembangunan Nasional Dunia pada 2026 diproyeksikan berada dalam fase “new normal global” yang sarat kompetisi. Transformasi digital, kecerdasan buatan, transisi energi, serta perubahan struktur pasar tenaga kerja menjadi realitas yang tak terhindarkan. Negara-negara berlomba membangun keunggulan kompetitif berbasis inovasi dan pengetahuan. Dalam situasi ini, pendidikan tidak lagi dipandang sebagai sektor pelengkap, melainkan sebagai fondasi utama ketahanan dan kemajuan bangsa.
Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan struktural dalam pembangunan sumber daya manusia. Ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah, kesenjangan akses teknologi, serta rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja menjadi persoalan yang terus berulang. Jika kondisi ini tidak ditangani secara serius, maka bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru berpotensi berubah menjadi beban demografi.
Oleh karena itu, menyambut 2026 harus dimaknai sebagai panggilan untuk melakukan koreksi arah pembangunan. Pemulihan ekonomi yang tidak disertai dengan transformasi pendidikan hanya akan menghasilkan pertumbuhan semu—tinggi secara angka, tetapi rapuh secara fondasi.
Pemulihan yang Transformatif, Bukan Sekadar Restoratif
Pemulihan nasional tidak boleh dipahami sebagai upaya kembali ke kondisi sebelum krisis. Dunia telah berubah, dan Indonesia tidak bisa memaksakan diri kembali ke pola lama. Yang dibutuhkan adalah pemulihan transformatif, yakni pemulihan yang diiringi dengan pembaruan sistemik pada sektor-sektor strategis, terutama pendidikan.
Pendidikan memiliki posisi unik dalam pembangunan nasional. Ia bukan hanya menghasilkan tenaga kerja, tetapi membentuk cara berpikir, nilai, dan karakter generasi bangsa. Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, bangsa yang kuat adalah bangsa yang memiliki warga negara yang adaptif, kritis, dan berkarakter. Pendidikanlah yang menjadi medium utama pembentukan kualitas tersebut.
Dengan demikian, akselerasi pertumbuhan menuju 2026 tidak dapat dilepaskan dari keberhasilan transformasi pendidikan. Keduanya merupakan dua sisi mata uang yang saling menentukan.
Transformasi Pendidikan sebagai Agenda Strategis Nasional
Transformasi pendidikan harus dipahami secara komprehensif dan berjangka panjang. Ia tidak boleh direduksi menjadi sekadar perubahan kurikulum, digitalisasi kelas, atau program-program simbolik yang bersifat temporer. Transformasi pendidikan sejati menuntut perubahan paradigma: dari pendidikan yang berorientasi pada hafalan menuju pendidikan yang menumbuhkan daya nalar, kreativitas, dan kepedulian sosial.
Dalam kerangka ini, pendidikan harus mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjaga jati diri bangsa. Globalisasi dan kemajuan teknologi tidak boleh menggerus nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Justru pendidikan harus menjadi ruang dialektika antara kemajuan dan nilai, antara inovasi dan etika.
Transformasi pendidikan tidak akan berhasil tanpa reinvensi ekosistem belajar secara menyeluruh. Ekosistem belajar nasional mencakup sekolah, perguruan tinggi, pendidik, peserta didik, keluarga, komunitas, dunia usaha, hingga kebijakan negara. Selama ini, pendidikan kerap diposisikan sebagai urusan institusi formal semata, padahal proses belajar sesungguhnya berlangsung dalam ruang sosial yang jauh lebih luas.
Reinvensi ekosistem belajar menuntut pendekatan kolaboratif dan inklusif. Dunia pendidikan harus terhubung dengan realitas sosial dan ekonomi masyarakat. Pembelajaran kontekstual, berbasis masalah nyata, serta berorientasi pada pengembangan potensi lokal menjadi kebutuhan mendesak. Dengan cara ini, pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga agen perubahan yang mampu berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Peran pendidik dalam ekosistem ini juga harus diperkuat. Guru dan dosen bukan sekadar pelaksana kebijakan, melainkan aktor intelektual yang memiliki ruang untuk berinovasi dan berefleksi. Negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan, peningkatan kapasitas, dan perlindungan profesional pendidik sebagai pilar utama transformasi pendidikan.
Pendidikan dan Akselerasi Pertumbuhan Berkelanjutan
Akselerasi pertumbuhan nasional yang berkelanjutan hanya mungkin tercapai jika ditopang oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Pendidikan yang transformatif akan melahirkan generasi yang tidak hanya siap menghadapi pasar kerja, tetapi juga mampu menciptakan solusi atas berbagai persoalan bangsa mulai dari kemiskinan, ketimpangan, hingga krisis lingkungan.
Dalam konteks ekonomi, pendidikan berperan sebagai mesin inovasi. Negara-negara dengan sistem pendidikan yang kuat terbukti lebih tangguh menghadapi krisis dan lebih cepat pulih. Indonesia harus belajar dari pengalaman tersebut dan menempatkan pendidikan sebagai investasi strategis jangka panjang, bukan sekadar pos anggaran rutin.
Tahun 2026 harus menjadi titik temu antara agenda pemulihan ekonomi dan reformasi pendidikan. Tanpa sinergi keduanya, akselerasi pertumbuhan hanya akan bersifat elitis dan tidak menyentuh akar persoalan.
Optimisme menyambut 2026 harus dibarengi dengan keberanian untuk bersikap kritis terhadap berbagai kelemahan yang masih ada. Transformasi pendidikan membutuhkan konsistensi kebijakan, kesinambungan program, serta komitmen lintas pemerintahan. Pendidikan tidak boleh menjadi korban pergantian rezim atau kepentingan politik jangka pendek.
Masyarakat sipil, akademisi, dan generasi muda juga memiliki peran penting dalam mengawal agenda transformasi ini. Pendidikan adalah urusan bersama, dan keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi kolektif.
Pada akhirnya, menyambut 2026 bukan hanya tentang mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi tentang membangun masa depan bangsa yang lebih manusiawi, adil, dan berkelanjutan. Transformasi pendidikan merupakan jembatan antara pemulihan hari ini dan kemajuan esok hari. Jika pendidikan berhasil direinventasi sebagai ekosistem belajar nasional yang adaptif dan berkarakter, maka akselerasi pertumbuhan bukanlah mimpi, melainkan keniscayaan.
Tahun 2026 adalah kesempatan. Apakah ia akan menjadi tahun pemulihan biasa atau momentum lompatan peradaban, sangat bergantung pada keberanian bangsa ini menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan.
Penulis : LAILATUL I'ZAATI (Peserta Latihan Kader III BADKO HMI JATIM Tahun 2025 )


Comments
Post a Comment